LEMBAGA DAKWAH ISLAM INDONESIA ( L D I I ) KABUPATEN BLORA MEMBANGUN GENERASI PENERUS BANGSA CERDAS, TERAMPIL DALAM BERKARYA, BERBUDI LUHUR, MAMPU BERSAING DI ERA GLOBALISASI
Subscribes
RSS Feed
LEMBAGA DAKWAH ISLAM INDONESIA
image

LDII Kabupaten Blora

0296533044


Jalan Kolonel Sunandar 75A, Blora
Cek Nama Domain

Cek Nama Domain ?

Kategori
Arsip

Artikel Terbaru
Komentar Terbaru
LINK

NABI SULAIMAN DAN RATU BILQIS

NABI SULAIMAN DAN RATU BILQIS

 

Suatu hari di sebuah kerajaan besar di muka bumi, berkumpul para penggawa, mulai dari prajurit sampai menteri-menteri kerajaan memenuhi panggilan sang Raja. Anehnya, tidak hanya bangsa manusia yang datang memenuhi panggilan itu, tetapi juga banyak jin-jin serta burung-burung berbondong-bondong berkumpul memenuhi balairung istana. Sang Raja yang gagah perkasa duduk di singgasana sambil memandang mereka satu persatu.

“Mengapa aku tidak melihat Hud-hud? Tahukah kalian dimana dia?' tanya sang Raja memecah keheningan suasana. Para penggawa diam membisu saling pandang satu sama lain. Mereka memang tidak tahu menahu soal kepergian seekor burung yang dimaksud oleh sang Raja. Maka sang Raja pun mengeluarkan sabdanya, “Dengar wahai para punggawa! Oleh karena Hud-hud tidak hadir tanpa seijinku, maka sungguh aku akan menghukumnya dengan hukuman yang berat, atau aku akan memenggal kepalanya. Kecuali jika dia dapat memberikan alasan yang tepat tentang kepergiannya!”

Sulaiman bin Daud, itulah nama sang Raja yang juga seorang Nabi Allah. Allah telah memberinya anugerah yang luar biasa yaitu bisa berbicara dengan burung-burung dan menguasai jin-jin. Selain itu Allah juga memerintahkan angin supaya tunduk dan patuh terhadap perintah Nabi Sulaiman. Kamana pun Nabi Sulaiman hendak pergi, angin akan membawanya dengan sangat cepat menuju tempat yang diinginkan. Demikian mukjizat dari Allah yang menyertai Nabi Sulaiman dalam memimpin umat, memberantas kebathilan dan menegakkan kebenaran di muka bumi.

Nabi Sulaiman sangat dekat dengan para punggawa maupun rakyatnya. Pada waktu-waktu tertentu dikumpulkannya para punggawa untuk dimintai saran, pendapat maupun keluhan-keluhan mereka. Perhatian Nabi Sulaiman yang begitu besar tersebut menjadikan Nabi Sulaiman hafal satu persatu seluruh nama pengikutnya. Sehingga kalau ada salah satu punggawa yang tidak datang memenuhi panggilannya, pasti Nabi Sulaiman akan mencarinya, seperti yang terjadi pada burung Hud-hud.

Selang beberapa saat setelah Nabi Sulaiman menjatuhkan sabdanya pada Hud-hud, tiba-tiba Hud-hud datang dan bersimpuh di hadapan Nabi Sulaiman.

“Ampun paduka, sebelum paduka menghukum hamba, perkenakan hamba untuk menyampaikan berita yang belum pernah paduka dengan sebelumnya.”

“Katakan, berita apa yang kau bawa?”

“Hamba baru saja datang dari negeri Saba'. Sebuah negeri yang kaya raya, dipimpin oleh seorang ratu berparas cantik rupawan. Dia memiliki singgasana yang besar dan indah, panjangnya 80 hasta (40 m), lebarnya 40 hasta (20 m) dan tingginya 30 hasta (15 m). Para pengikutnya memanggilnya Ratu Bilqis. Akan tetapi paduka, Ratu Bilqis dan seluruh pengikutnya telah terpedaya oleh syetan, mereka menjadikan matahari sebagai tuhan yang mereka puja-puja setian hari.”

“Mmmm, benarkah?”

“Hamba tidak berdusta, paduka”

“Baiklah. Aku ingin membuktikan kebenaran perkataanmu Berangkatlah kembali ke negeri Saba' dengan membawa surat dariku. Berikan surat itu pada Ratu Bilqis dan pengikutnya. Lalu dengarkan apa yang mereka bicarakan setelah membaca surat itu.”

Sesaat kemudian Hud-hud sudah terbang tinggi melewati pegunungan dan hamparan padang pasir membawa sepucuk surat dari Nabi Sulaiman untuk Ratu Bilqis. Hingga sampailah di sebuah istana kediaman Ratu Bilqis yang sangat megah dan indah. Hud-hud terbang menerobos masuk ke dalam istana, lalu menjatuhkan gulungan surat yang dibawanya di hadapan sang Ratu. Dengan serta merta Ratu memungut dan membaca surat itu di hadapan para pembesar kerajaan Saba'.

“Dari Sulaiman. Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, janganlah kalian berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri.”

Ratu Bilqis tertegun setelah membaca surat dari Nabi Sulaiman yang seolah akan merebut negeri Saba' dari kekuasaan Ratu Bilqis. Maka berkatalah sang Ratu,

“Wahai para pembesarku, berilah aku pertimbangan dalam menghadapi masalah ini. Sebab aku tidak pernah memutuskan suatu permasalahan sebelum meminta pendapat dan saran dari kalian.”

“Paduka Ratu, kita memiliki bala tentara yang besar dan kuat. Pasukan-pasukan kita sangat terlatih dan pemberani. Kita siap menghadapi tantangan itu. Namun demikian semua itu kembali pada keputusan paduka. Oleh karena itu mohon kiranya paduka mempertimbangkan segala sesuatunya dengan cermat sebelum paduka mengeluarkan perintah.”

“Wahai para pembesarku, walaupun kita semua telah siap berperang demi membela keagungan dan kejayaan negeri kita, tetapi ketahuilah bahwa peperangan hanya akan meninggalkan kepedihan dan kesengsaraan bagi rakyat kita. Karena sesungguhnya raja-raja apabila menyerang suatu negeri, niscaya mereka akan membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina. Aku benci perang!”

“Lalu, apa yang akan paduka lakukan?”

“Kita akan mengirim utusan pada Raja Sulaiman dengan membawa hadiah sebagai tanda perdamaian. Kita tunggu saja hasilnya.”

Para utusan Ratu Bilqis yang membawa hadiah telah sampai di kerajaan Nabi Sulaiman. Tetapi, apa yang terjadi? Nabi Sulaiman marah.

“Apakah Ratu kalian ingin menyuapku? Bukan harta benda maupun kekuasaan yang aku inginkan. Sebab segala sesuatu yang telah diberikan oleh Allah kepadaku, jauh lebih baik dibandingkan apa yang diberikan-Nya pada Ratu kalian. Sampaikan pada Bilqis, janganlah dia merasa bangga karena memberiku hadiah seperti itu. Aku hanya ingin dia beserta seluruh pengikutnya tunduk mengikuti ajakanku untuk menyembah kepada Allah. Dan katakan pada pemimpin kalian, kalau dia tidak mau menghadapku. Aku yang akan datang ke negerinya. Tetapi kedatanganku akan mengusirnya dari negeri itu dan mereka menjadi kawanku yang hina!”

Para utusan Ratu Bilqis pulang dengan perasaan kecut demi mendengar ancaman Nabi Sulaiman. Sementara itu Nabi Sulaiman segera mengatur siasat untuk memperdaya Ratu Bilqis. Nabi Sulaiman mengumpulkan para pembesarnya.

“Wahai para pembesarku! Siapakah diantara kalian yang sanggup membawa kemari singgasana Bilqis sebelum dia datang untuk menyerah kepadaku?” Salah satu pembesar Nabi Sulaiman dari golongan jin, bernama Ifrit mengacungkan tangannya.

“Hamba sanggup mendatangkan singgasana Bilqis ke hadapan paduka sebelum paduka beranjak dari singgasana paduka. Karena hamba memiliki kekuatan yang besar untuk mengangkatnya. Percayalah pada hamba.”

Seluruh mata yang hadir dalam pertemuan itu tertuju pada jin Ifrit. Mereka kagum dengan kesanggupan Ifrit yang luar biasa. Ashof bin Barkhiya', seorang juru tulis Nabi Sulaiman yang ahli ibadah tiba-tiba mengacungkan tangan dan berkata dengan kalem.

“Wahai Nabi Allah. Hamba Insya Allah akan membawa singgasana Bilqis ke hadapan paduka dalam sekejap mata”

“Benarkah?”

Ashof menengadahkan kedua tangannya ke atas memohon pertolongan Allah seraya berkata, “Wahai Dzat yang memiliki Keagungan dan Kemuliaan! Tuhan kami dan Tuhannya segala sesuatu. Tidak ada Tuhan kecuali Engkau. Datangkan pada kami singgasana Bilqis!”

Keajaiban terjadi. Bagian sudut balai ruang istana yang tadinya kosong kini telah dipenuhi singgasana Bilqis yang megah bertatahkan emas dan berlian. Semua terkesima melihat kejadian itu. Namun Nabi Sulaiman segera menyadarkan mereka,

“Ini semua karunia dari Allah dan sebagai cobaan bagi kita. Apakah kita tergolong orang yang bersyukur atau justru malah sebaliknya. Wahai para pembesarku! Kini singgasana Bilqis sudah berada dalam kekuasaan kita. Ini adalah merupakan satu kemenangan bagi kita. Tetapi tidak berhenti sampai disini. Sebelum Bilqis tiba di negeri kita, rubahlah bentuk singgasananya. Aku ingin tahu, apakah dia masih mengenali singgasananya atau tidak.” Nabi Sulaiman bermaksud menyadarkan Ratu Bilqis bahwa apalah artinya memiliki kecantikan, kemewahan dan kekuasaan, sedangkan hati dan pikirannya terbelenggu oleh tipu daya syetan, sehingga matahari dianggapnya sebagai tuhan. Betapa sempurna kenikmatan hidup di dunia, jika kemewahan dan kekuasaan yang telah dimiliki disertai dengan hati yang iman dan diliputi dengan rahmat serta pengampunan dari Allah. Nabi Sulaiman berniat menjadikan Ratu Bilqis sebagai permaisuri yang akan mendampinginya dalam memperjuangkan dan menegakkan panji-panji tauhid di bumi.

Tetapi kemudian tersiar 'gosip' di kalangan para jin pengikut Nabi Sulaiman bahwa tumit dan betis Ratu Bilqis dikabarkan mirip betis khimar. Nabi Sulaiman segera mengambil inisiatif. Diperintahkannya para jin untuk melapisi kaca pada lantai ruangan yang akan dipergunakan menjamu Ratu Bilqis. Pekerjaan itu dapat diselesaikan dalam waktu singkat. Sebuah ruangan yang ditata sedemikian indah, dengan lantai terbuat dari kaca bagai sebuah kolam dengan airnya yang bening.

Tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Ratu Bilqis dikawal oleh para pembesar negeri Saba' datang memasuki istana Nabi Sulaiman. Nabi Sulaiman memersilakan sang Ratu memasuki balairung istana dan menunjukkan sesuatu yang berdiri megah ditengahnya.

“Wahai Bilqis, apa betul ini singgasanamu?”

“Ohh.... sepertinya ini memang singgasanaku. Tapi, bagaimana mungkin bisa sampai disini ?”

“Wahai Bilqis. Ketahuilah, Tuhan yang patut disembah adalah Allah. Tuhan Yang Maha Esa. Dialah yang menciptakan segala sesuatu. Dialah yang menghidupkan dan mematikan. Dialah yang mengutusku sebagai Nabi pemimpin umat di muka bumi ini. Dan atas kekuasaan-Nya singgasanamu sampai disini. Tinggalkan menyembah matahari. Mulailah menyembah Allah Tuhan seluruh alam.”

Kemudian Nabi Sulaiman mempersilahkan sang Ratu memasuki sebuah ruangan yang telah disiapkan untuk menjamu tamu. Pertama kali yang dilihat Ratu Bilqis dalam ruangan itu adalah sebuah kolam yang luas dengan airnya yang bening. Karena takut gaunnya basah terkena air, disingkapnya gaun indah yang membalut tubuhnya sampai beris. Sehingga semua yang hadir dapat mellihat betapa indah betis sang Ratu, tidak seperti yang digosipkan oleh mereka selama ini.

Berkatalah Nabi Sulaiman, “Wahai Bilqis, kau tidak perlu meyingkap gaunmya. Sebab itu bukan kolam, melainkan lantai yang terbuat dari kaca.”

Sekali lagi Bilqis telah terpedaya oleh Nabi Sulaiman. Dia merasa telah berbuat aniaya terhadap dirinya sendiri, karena selama ini telah memuja-muja pada tuhan selain Allah.

“Ya Tuhanku. Sesungguhnya aku telah berbuat dzalim terhadap diriku. Dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta alam.”

Sang Ratu telah sadar dan insyaf. Kini Raja Sulaiman bin Daud yang gagah perkasa didampingi oleh seorang permaisuri, Bilqis binti Syarohil, terus berjuang mengemban amanat dari Allah untuk memberantas segala bentuk kemusyrikan dan menyebarluaskan kebenaran hingga agama Allah berdiri tegak di muka bumi.     

 

Thu, 27 May 2010 @07:21


3 Komentar
image

Sun, 30 May 2010 @07:12

edo

Tingkatkan Terus untuk menuju sukses

image

Mon, 21 Jun 2010 @11:14

roradina

semangaaaaaaaaaaaaaaaa.....tttttt!!!!
memang zaman sekarang keimanan seseorang mudah goyah...
meskipun zaman sudah maju, tapi yang namanya kemusyrikan terkadang masi nempel di hati manusia,,,
kita sebagai generasi penerus harus benar2 berhati2 dalam bertindak,,,,

image

Thu, 29 Jul 2010 @10:14

Sahlan

Aslkm,

cerita ini bagus dan cukup menginspirasi umat, terutama kejaiban sebuah doa yang dipanjatkan oleh Ashof bin Barkhiya. Ajaib sekaili kekuatan doa dari seorang yang ahli ibadah.

Maju terus LDII Blora, salam dari saya Wakil Sekretairs DPD Kota Jakarta Selatan untyk warga LDII Blora.

Ajk,
Waslkm

Sahlan


Tulis Komentar

Nama

E-mail (tidak dipublikasikan)

URL

Komentar

Kode Rahasia
Masukkan hasil penjumlahan dari 5+0+4

Copyright © 2012 edhiesy · All Rights Reserved